RROL.ID, Medan – Masyarakat desa manunggal protes penamaan beberapa pintu gerbal Gol dan property (Perumahan) yang ada berada diwilayah desa tersebut, tetapi mencatut nama daerah lain.
Sebab, menurut mereka nama dan identitas itu sangat penting. selain itu ia menjadi ciri khas suatu teritorial (wilayah), personal (warga) dan komunal (Masyarakat). Desa Manunggal secara historis adalah pemekaran dari Desa Helvetia di Kecamatan Labuhan Deli, Deli Serdang.
Direktur Lingkar Rumah Rakyat (LRR) Indonesia Johny Sitompul, Selasa (17/3/2026) menerangkan bawah desa manunggal berbatasan di Utara dengan Medan Marelan, sebelah timur Sungai Deli Medan Deli, Sebelah Selatan Desa Helvetia, dan sebelah timur sungai Bederah Hamparan Perak. katanya.

Beberapa tahun terakhir eksistensi nama wilayah desa Manunggal tergerus karena label penamaan yang salah tempat.
“Contoh Pintu Gerbang Jalan Tol di pasar enam desa Manunggal diberikan nama ‘GERBANG TOL MARELAN’ Sehingga membangun asumsi publik bahwa gerbang tol tersebut ada dalam wilayah Kecamatan Medan Marelan. Membuat kabur identitas lokal ‘DESA MANUNGGAL’ jelas Johny yang juga Sekretaris Aliansi Tani Bersama (ATB) Labuhan Deli
Masih katanya, hal tersebut beberapa kali telah dipersaolankan oleh pemerintahan Desa Manunggal, dengan mendirikan Plank Besar serta tulisan ‘Anda Memasuki wilayah Desa Manunggal’ Persis di depan gerbang Tol Marelan di bawah fly over , serta disamping pos pengamanan.
Hal tersebut dilakukan bukan hanya sebatas membangun Gapura, Plank dan Tugu simbolis saja, melainkan upaya menimbulkan eksistensi suatu daerah.
Kepala Desa Manunggal Muklisin telah beberapa kali menyuarakan itu pada setiap reses anggota DPRD Kabupaten maupun Provinsi. setingkat Kabupaten dan Propinsi DPRD Sumut, dan berharap aspirasi tersebut dapat terealisasi dan diluruskan secara administrasi bagian tata kelola wilayah untuk menghormati kedaulatan, kewibawaan dan kearifan lokal identitas wilayah desa Manunggal.
Selain persoalan nama Pintu Gerbang Jalan Tol Marelan, kini bertambah muncul Pembangunan Properti perumahan bernama ‘CBD Helvetia’ dan ‘Sekolah agama Modern Helvetia’, keduanya berdiri megah, besar dan ikonik di pinggir jalan Veteran antara wilayah V dan pasar pasar VI di Desa Manunggal.
“kami bukan menolak pembangunan dan perkembangan yang menjadi persoalan Identitas nama wilayah yang keduanya berdiri di Desa Manunggal, tetapi memakai nama Helvetia,” kata Muklisin.
“hampir setiap hari pengguna jalan melintas di jalan besar Veteran Desa Manunggal, secara tidak langsung akan terbangun persepsi bahwa mereka sedang di Helvetia bukan Manunggal,” tambahnya.
Pemerintah Desa manunggal berharap pengusaha properti dan yayasan sekolah memiliki sikap menjaga kearifan lokal setempat, dan melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat terkait label nama identitas wilayah berdirinya usaha dan kegiatan mereka.
Masyarakat manunggal meminta nama Pintu Gerbang Tol Marelan di untuk diubah menjadi Gerbang Tol Manunggal, selain itu, pengusaha properti, pimpinan yayasan, pemilik plank toko/usaha, dapat mencantumkan nama identitas desa Manunggal bukan nama wilayah lain. tutup Johny Sitompul Koordinator Sanggar Baca Idola Desa Manunggal.
Reporter : Ardiansyah


