IOM Indonesia dan AJI Medan Gelar Workshop Migran dan Pengungsi

Terkait

RROL. ID, Medan-Organisasi Internasional Pemerintah-International Organization Goverment (IGO) Perkumpulan Organisasi Untuk Pengungsi-International Organization For Migration (IOM) yang tergabung dengan UN Imigration atau Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan gelar Roundtable dan Workshop dengan Isu Migran dan Pengungsi yang ada di Kota Medan maupun Indonesia bersama pekerja media di Hotel Antares Jalan Sisingamangaraja.

Acara tersebut digelar Rabu-Kamis 17-18 Mei 2023 bersama dengan peserta seluruh jurnalisme yang ada di Sumatera Utara

Menurut Ketua AJI Medan Cristison, acara digelar dikarenakan Indonesia merupakan negara transit bagi para pengungsi dan pencarian suaka. salah satunya Pangkal Pinang di Kepulauan Riau dan Medan di Sumatera Utara menjadi awal masuknya pengungsi di Indonesia.

Agar ada penjelasan dan pemahaman apa yang disebut migran, pengungsi dan pencari suaka maka diperlukan workshop ini di lakukan. katanya.

Pimpinan IOM Medan Catline, menerangkan Meskipun Indonesia bukan salah satu penanda tangan Konvensi 1951 tentang status pengungsi dan Protokol 1967. Tetapi, Indonesia memiliki 13.175 pengungsi dan pencari suaka meliputi perempuan, laki-laki dan anak-anak Rohingya, tidak yakin akan masa depan angka panjang mereka.

Sehingga, diperlukan kerjasama lewat pemahaman bersama terkait peliputan para pegungsi migran. sebab, kesalahan dalam penyampaikan berita dipublik akan beresiko kepada sulitnya para migran diterima kembali di negaranya. kata Catline.

Gejolak awal warga rohingya konflik di Nyammar pada tahun 2012, setelah di terbitkan pada salah satu media internasional, sehingga pemerintah nyanmar menjadikan para pengungsi rohingya tidak memiliki identitas.

Itu menjadi awal masuknya para migran ke Indonesia melalui Aceh hingga akhirnya ke Medan dan di akomodasi di Penginapan-penginapan yang ada di Medan Tuntungan dan Padang Bulan.

IOM berharap selepas acara ini tidak ada lagi berita yang keliru membedakan antara pencari suaka dan Pengungsi, serta media diharapkan dapat menjadi gate keeper atau penjaga perdamaian.

Sebab, kesalahan arta dalam penyajian berita akan berdampak pada Gejolak sosial yang muncul. Tambah Allysha Amanda, Program Asistant for Comunnications IOM Jakarta

Kepala Kesbangpolinmas Pemko Medan Ody menyampaikan harus ada revisi Peraturan Presiden Republik Indonesia (Pepres) Nomor 125 Tahun 2016 tentang Penanganan pengungsi dari Luar Negeri.

Sebab, masih banyak kewenangan yang tidak dapat dilakukan pemerintah daerah atas Penanganan pengungsi tersebut. Dan tidak sesuai dengan Undang-Undang otonomi daerah sehingga Penanganan kami sangat terbatas.

“Kami berterima kasih kepada IOM mitra kami yang konsisten selalu Penanganan pengungsi Migran di Indonesia”, katanya.

Nany Afrida, Jurnalis Senior AJI Indonesia menyampaikan, saat ini diperlukan jurnalis konstruktif, yang tidak hanya melihat dari sisi terlihat saja. diperlukan saat ini sosok jurnalis yang mampu melihat dibarengi dengan rasa empati.

“Bagaimana kita melakukan wawancara dengan seorang narasumber korban peran misalnya, atau pun narsumber yang tinggal sebatang kara dan dia tidak mengetahui siapa keluarga dia yang masih hidup, rumah pengungsi atau Akomodasi. sebab, mereka memilki traumatic yang dalam, sehingga kita harus memiliki kemampuan empati untuk dapat memulai wawancara terhadap mereka”, kata Nany.

Acara diikuti puluhan Jurnalis dari beberapa media yang ada di Sumatera Utara dengan materi jurnalisme konstruktif.

Reporter : Che

spot_img

Terkini

Related Articles

Lewat ke baris perkakas