RROL.ID, Pematangsiantar – Peristiwa kematian Yesus ditangkap, disiksa dan disalibkan pada hari Jumat 14 Nisan, beberapa jam sebelum hari Paskah Yahudi oleh Kekaisaran Romawi pada Pemerintahan Pontius Pilatus di Yerusalem, Yudea sekitar tahun 30-33 Masehi lalu, merupakan sejarah bagi umat manusia khususnya pemeluk agama kisten di seluruh dunia.
Penyaliban tersebut merupakan puncak dari serangkaian peristiwa yang terjadi selama pelayanan Yesus, termasuk perjamuan terakhir, pengkhianatan muridnya sendiri Yudas Iskariot yang menjadi mata-mata hingga menjual Yesus dengan imbalan kepingan uang, menjadi awal penangkapan dan penyiksaan hingga kematiannya di kayu salib.Â
Dia dianggap menjadi lawan oleh raja-raja pada masa itu, yang mungkin berdampak akan runtuhnya kerajaan dan pemerintahan curang, culas dan bobrok jika yesus tetap dibiarkan begiru saja. Sebab, banyak yang ia tolong, ia bantu hingga ia memiliki murid-murid namun, disaat ia dicerca dan dihina, tidak banyak dari manusia yang ia tolong berani bersuara, menjelaskan dan membantah atas apa yang ia terima dari pemerintahan romawi masa itu.
Potret ini tidak jauh dengan kejadian saat ini, jika dikorelasikan dengan sistem pada dunia hingga pemerintahan saat ini. sebab, setiap manusia ada saja yang kritis tetapi dianggap lawan, bahkan diwaspadai menggangu stabilitas negara walau kondisi negara tidak sedang baik-baik saja.
Menurut kristen pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib adalah untuk menebus dosa umat manusia. sehingga berbagai kegiatan dilaksanakan dalam rangka mengenang peristiwa yang sungguh mengiris hati tersebut. sebab, jika ditelusuri lebih jauh sebenarnya dalam penghakiman tersebut, pemerintahan pontius pilatus sebenarnya tidak memiliki bukti atau dasar kuat untuk menghukumnya.
Walau tidak memiliki bukti kuat, justru dia dianggap lebih rendah dengan seorang narapidana pembunuh yang sangat kejam yaitu Barambas, dalam musyawarah di gedung pemerintahanan, lebih baik sang pembunuh dibebaskan yang jelas memiliki banyak bukti pembunuhan daripada yesus jelas sulit dibuktikan mereka masa itu.
Dikota Pematangsiantar, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kota Pematangsiantar melaksanakan Prosesi Jalan Salib, dimulai dengan ibadah pemberangkatan di Kampus Universitas HKBP Nommensen. Jalan Sangnaualuh Kelurahan Siopat Suhu Kecamatan Siantar Timur Kota Pematangsiantar. Jumat (18/4/2015) sekira 14.30 WIB.
Dalam proses jalan salib itu diceritakan bagaimana sesungguhnya peristiwa dari awal, perhentian hingga proses penyaliban di Bukit Golgata dengan rute start dari Kampus UHKBP, Jalan Sangnaulauh, Jalan Sutomo dan finish di depan kantor walikota Pematangaiantar Jalan Merdeka, dipimpin Pdt Sunggul Pasaribu, S.Th., MPAK
Beberapa anggota legislatif dan eksekutif Wakil Ketua DPRD Pematangsiantar Frenky Boy Saragih, Rektor Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar Dr Muktar B Panjaitan, M.Pd, Sekretaris Gamki Pematangsiantar Jon Roi Tua Purba, MPA, anggota DPRD Pematangsiantar Robin Januarto Manurung, SH, Sekretaris PGID Kota Pematangsiantar Pdt Asbon Manurung, Raja Hasoge Timbul Panjaitan dan Walikota Pematangsiantar Wesly Silalahi SH., M.Kn turut memikul salib.
Ketua DPC GAMKI Pematangsiantar Hendra Simanjuntak, M.Pd menyampaikan serangkaian acara Jumat Agung ini merupakan masa berkabung sebagai simbol pengorbanan Kristus kepada umat manusia.
“Di momen ini kita sudah merangkai jalan salib. Trimakasih kepada seluruh organisasi mahasiswa, organisasi keumatan, PGID, MUKI, API, BAMAGNAS, PGLII dan insan pers.
Momen ini sebagai perenungan,”ujarnya.
Sementara itu rektor UHKBPNP Dr. Muktar B Panjaitan, M.Pd dalam sambutannya sangat mengapresiasi proses jalan salib itu. ” Semoga ini menjadi awal semangat dari pemuda Kristen untuk menegakkan kebenaran di kota Pematangsiantar,”ujarnya.
Walikota Pematangsiantar Wesly Silalahi dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas penyelenggaran proses jalan salib tersebut, “Kami mengharapkan prosesi jalan salib pemuda ini bukan sekedar perayaan dan tidak terjebak pada ritual semata. Tetapi makna dari perayaan ini harus bisa menjadi garam dan terang bagi pemuda Gamki dan seluruh umat Kristiani khususnya di Kota Pematangsiantar dan sejatinya bisa menangkap makna dibalik peristiwa tersebut,”ujarnya.
Adapun thema acara adalah yang kuhendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati (Filipi 3:10-11)
Reporter : CCKR


