Catatan Pendek
Oleh : Toman Siagian, SH, MH (Aktivis 98 Nommensen Medan, salah satu kandidat doktor)
Kemanakah akan dibawa masa depan sekira 280 juta rakyat Indonesia? Rezim berganti, Presiden berganti, peraturan berganti, bongkar pasang disana sini dengan cara sangat meyakinkan, seakan-akan segala sesuatu yg dilakukan bertujuan untuk kebaikan serta kemajuan bangsa dan negara ini.
Semua pihak masing masing mengklaim apa yang mereka lakukan untuk rakyat dan bangsa Indonesia dan selalu atas nama rakyat Indonesia faktanya? Anggaran yang begitu besar ,waktu yang begitu panjang dan melelahkan, membuat masyarakat menanti nanti penuh harapan ditambah kebingungan bercampur ragu akan apa yang disampaikan para politisi yang berkuasa ataupun belum berkuasa saat ini.
Seperti dongeng saat menidurkan anak kecil. keadilan kemakmuran untuk seluruh lapisan masyarakat yang kerap disampaikan saat tahun politik dimulai. sudah membuat rakyat muak tetapi tidak berdaya berbuat apapun diakibatkan seluruh lapisan kekuatan yang strategis sudah mampu mereka kendalikan dan design dengan baik. seakan-akan tidak ada beban dengan segala ucapan, janji janji kosong yang sangat memuaskan.
Seandainya mereka dapat melihat dengan jernih nasib masyarakat saat ini yang berteriak lapar, putus sekolah, pengangguran, tergusur dari tempat mereka tinggal dengan alasan pembangunan Indonesia maju.
Saat ini semua sibuk melakukan pembenaran diri atas kesalahan yang mereka lakukan. semua sibuk mengkritik karena belum mendapat kue kekuasaan.
Selalu menerbarkan pembenaran atas nama rakyat, sepertinya kita sudah kehilangan budaya malu, kita sudah kehilangan budaya kesatria mengaku salah kalau salah. dan mau memperbaiki kesalahan tersebut tanpa harus membela diri dan mencari kambing hitam dalam tiap kebijakan, tindakan yang kita lakukan dinegara ini.
Reformasi hanya melahirkan penguasa zalim yang baru. terlihat lemah lembut dan tulus kenyataannya sangat berdarah ingin, tidak takutkah, tidak malukah kita terhadap generasi kita yang akan melihat, membaca sejarah pendahulunya yang penuh tipu muslihat dalam menjalankan kekuasaan?ketika rasa malu itu sudah tdk ada lagi, saat hati nurani itu sudah memudar dan hilang, apakah kita masih layak disebut manusia Indonesia yang berbusa busa mulut kita mengucap, berteriak mengklaim kita adalah berdasarkan Pancasila yang berketuhanan, berkemanusiaan , persatuan, kerakyatan dan berkeadilan?
Pertanyaannya adalah akan dibawa kemana rakyat Indonesia oleh segelintir orang-orang yang mengaku politisi dan haus kekuasaan saat ini!!


