Mobilitas Masyarakat Meningkat Menjelang Lebaran, Pemda Perlu Waspada

Terkait

RumahRakyatOnline.id, Jakarta – Satgas Covid-19 menyebut mobilitas masyarakat semakin meningkat seiring dengan sejumlah relaksasi aturan yang dilakukan pemerintah dan diprediksi akan semakin meningkat menjelang periode mudik lebaran.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menyebut, jika merujuk data Google Mobility hingga 30 Maret 2022, terjadi kenaikan mobilitas yang cukup tajam ke taman, toko bahan makanan, serta tempat retail dan rekreasi, yang bahkan mencapai titik tertinggi sejak awal pandemi.

“Tentunya kenaikan ini menjadi titik balik aktivitas masyarakat dan ekonomi Indonesia, sekaligus ini menjadi tantangan yang harus diantisipasi masyarakat dan pemerintah daerah dengan menjalankan upaya pencegahan penularan secara serius,” ujar Wiku lewat keterangan tertulis, Selasa (5/4/2022).

Data Badan Pusat Statistik atau BPS menunjukkan, kenaikan drastis mobilitas terjadi di taman, yakni dari 7,39 persen menjadi 32,19 persen secara month to month (Februari ke Maret). Begitu pula dengan tempat kerja yang naik menjadi 6,23 persen pada Maret 2022, dimana sebelumnya terkontraksi 6,57 persen pada Februari 2022.

Untuk tempat belanja dan kebutuhan sehari-hari turut mengalami lonjakan kunjungan. Dari 25,75 persen pada Februari 2022 menjadi 27,85 pada Maret 2022. Kawasan yang mengalami kenaikan mobilitas lainnya adalah tempat perdagangan, ritel, dan rekreasi. Tempat ini mengalami kenaikan dari 3,82 persen pada Februari 2022 menjadi 6,62 persen pada Maret 2022.

Wiku mengatakan, idealnya, aktivitas masyarakat yang bertahap menuju normal harus aman dari potensi penularan. Melihat data hasil monitoring protokol kesehatan pada kepatuhan memakai masker, kata Wiku, saat ini menunjukkan dari 1,4 juta orang dipantau, kepatuhannya sudah baik.

“Meski angka 1,4 juta baru mewakili sekitar 1 persen dari total penduduk Indonesia, tentunya angkanya harus terus ditingkatkan sehingga kedisiplinan protokol kesehatan masyarakat terus meningkat dan aktivitas aman dari Covid-19,” tuturnya.

Pemerintah daerah sebagai garda terdepan penanganan dan penegakan kedisiplinan protokol kesehatan di wilayahnya diharapkan bisa memaksimalkan peran relawan, TNI, Polri, dan duta perubahan perilaku sebagai aset dalam mengawasi dan melaksanakan disiplin protokol kesehatan.

Wiku berpesan, kepada seluruh Gubernur, Bupati dan Walikota dari seluruh provinsi di Indonesia meningkatkan cakupan orang yang dipantau kepatuhan protokol kesehatan terutama pada lokasi-lokasi yang rawan kerumunan dan kelalaian memakai masker. Terutama di Maluku Utara, Papua Barat dan Sulawesi Tengah yang belum melaporkan jumlah orang dipantau.

“Di samping itu, peningkatan pengawasan harus diupayakan hingga di tingkat terkecil yakni desa/kelurahan. Terutama pada daerah asal dan tujuan mudik yang akan datang seperti Jawa dan Sumatera. Penting untuk ditingkatkan kedisiplinan protokol kesehatan bagi masyarakat di wilayah tersebut,” ujar Wiku.

Satgas Covid-19 mendata, masih sangat sedikit desa/kelurahan di wilayah masing-masing provinsi di Indonesia yang telah melaporkan kepatuhan protokol kesehatan di wilayahnya. Ada tiga provinsi dengan laporan tertinggi yakni di DI Yogyakarta, DKI Jakarta dan Bali. Hanya saja, cakupannya juga masih rendah berkisar 20 hingga 40 persen dari total desa/kelurahan di wilayahnya yang melapor. Dan yang cukup memprihatinkan, ada tiga provinsi yang tidak melaporkan selama satu minggu terakhir, yaitu Papua Barat, Maluku Utara dan Sulawesi Tengah.

Wiku Adisasmito menekankan bahwa pemerintah memprediksi mobilitas masyarakat akan semakin meningkat karena melakukan mudik lebaran. Untuk itu, daerah diminta semakin hati-hati agar tidak terjadi lonjakan kasus.

Masyarakat yang ingin mudik tahun ini diminta mempersiapkan diri, salah satunya dengan melengkapi diri dengan vaksin booster sebagai perlindungan lebih saat melakukan perjalanan ke kampung halaman.

“Perlu menjadi perhatian bahwa, setelah divaksin, imunitas tidak bisa serta merta terbentuk secara instan. Para ahli imunologi sepakat proses pembentukan antibodi dalam tubuh rata-rata memakan waktu 1-2 minggu setelah penyuntikan,” kata Wiku.

Sumber : Tempo.co

spot_img

Terkini

Related Articles

Lewat ke baris perkakas