Salah satu fungsi hadirnya Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata sebagai dapur inkubasi gagasan, praktek, metode dan bentuk-bentuk teater, lintas genre, lintas konsep, lintas lalu lintas kini.
Harapannya, esok dan esok esok kemudian teater di Sumatera Utara tidak mati mati. Sebuah pertanyaan kemudian muncrat di jidat, apakah mahluk hidup (manusia) saja yang memiliki otoritas tertinggi dan jumawa dengan kedaulatannya sebagai mahluk teater?
Benarkah panggung dan seluruh pertunjukan akan mati bila tak ada mahluk hidup (manusia) di dalamnya? Kali ini Bengkel Monolog dan Teater Rumah Mata akan berkelindan.
Obrolan ini bermula di Sanggar 02 di antara bunga-bunga, dua tahun silam, antara saya, Rudi Pama (Seniman Rupa) dan Porman Wilson Manalu (Seniman Teater dan Sastra).
Perbincangan menukik ke gagasan untuk menghadirkan benda-benda mati sebagai tokoh sentral di atas panggung; tanpa aktor dan lain-lainnya. Namun, perbincangan ini terendapkan sekitar 104 minggu. Akhirnya gagasan ini dimunculkan Kembali setelah mengalami berbagai dialektika.
Teater benda Mati bukan kesimpulan puncak, dia seperti asumsi awal yang pada proses inkubasi nanti, mungkin saja akan memanjang ke bawah atau mengembang ke samping atau bisa juga bertumbuh ke atas atau membiak di kedalamannya.
Secara pribadi, di momen ini saya hendak mengajak bang Porman menjelajahi ingatan-ingatan tubuh teaternya ketika menciptakan Dialog Kursi di Teater Que bersama sahabat-sahabatnya.
Dialog Kursi adalah salah satu karya legendaris dari Sumatera Utara karena perjalanan proses dan eksekusinya di panggung teater. Karya yang dibentuk dengan loyalitas, militansi dan puncak keimanan kaum panggung.
Maka, kita pun sepaham Teater benda Mati akan dibentur-benturkan pada berbagai gagasan juga kenyataan yang ada di sekitarnya.
Cocok kali kayaknya kalo kita bisa cakap-cakap teater sabtu nanti (26 Juli 2025), pas 16.00 WIB-selesai. Di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata, Jl. Sei Siguti 17A/30, Sei Sikambing D, Medan Petisah.(*)


