Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the bbpress domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/rumahrak/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the health-check domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/rumahrak/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain td-cloud-library dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/rumahrak/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170
80 Tahun Merdeka, Warga Kepulauan Batu Masih Hidup Tanpa Listrik - RumahRakyatOnline

80 Tahun Merdeka, Warga Kepulauan Batu Masih Hidup Tanpa Listrik

Terkait

RROL.ID., Nias Selatan – Anggota DPD RI, Pdt. Penrad Siagian, melakukan kunjungan kerja ke wilayah Kepulauan Nias dengan menyoroti persoalan serius akses listrik di Pulau-pulau Batu, Kabupaten Nias Selatan. Senin (3/3/2026) 

Di tengah gencarnya klaim pemerintah mengenai peningkatan rasio elektrifikasi nasional, fakta berbeda justru ditemukan di wilayah kepulauan. Di Kepulauan Batu, sekitar setengah dari total desa hingga kini masih hidup tanpa akses listrik yang layak.

Adapun dari tujuh kecamatan, 86 desa dan satu kelurahan di wilayah Kepulauan Batu tersebut hampir separuhnya belum menikmati layanan listrik dari negara.

Kondisi ini terungkap saat Penrad Siagian menyerap langsung aspirasi dari masyarakat di sejumlah kecamatan dan desa selama kunjungan kerja sejak 21 Februari hingga awal Maret 2026.

Senator asal Sumatra Utara itu menilai kondisi tersebut sangat ironis.

“Indonesia telah merdeka sejak 1945. Delapan dekade berlalu, namun sebagian masyarakat di wilayah kepulauan ini masih hidup dalam gelap. Kemerdekaan yang dijanjikan konstitusi seolah belum sepenuhnya menyentuh mereka,” ujarnya.

Menurut Penrad, ketimpangan pembangunan infrastruktur energi di wilayah kepulauan menunjukkan bahwa program pemerataan belum sepenuhnya menyentuh daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Kalau kita bicara rasio elektrifikasi nasional yang sudah tinggi, pertanyaannya: apakah angka itu benar-benar mencerminkan kondisi di pulau-pulau seperti Kepulauan Batu?” katanya.

Hasil penelusuran di lapangan juga menunjukkan sebagian desa hanya mengandalkan generator set (genset) dengan waktu operasional terbatas, umumnya hanya menyala beberapa jam pada malam hari.terangnya

Bahkan, setengah dari desa-desa di tujuh kecamatan tersebut sama sekali belum terhubung dengan jaringan listrik negara.

Keterbatasan listrik ini berdampak sistemik pada kehidupan masyarakat. Aktivitas belajar anak-anak terhenti saat malam tiba, pelayanan kesehatan tidak dapat berjalan optimal, dan pelaku UMKM kesulitan meningkatkan produksi karena tidak tersedianya pasokan listrik yang stabil.

Penrad menambahkan, di saat wilayah lain mulai berbicara tentang transformasi digital dan ekonomi berbasis teknologi, masyarakat Kepulauan Batu masih berjuang untuk sekadar mendapatkan penerangan dasar.

“Ini bukan semata soal pembangunan infrastruktur, melainkan soal keadilan distribusi anggaran dan keberpihakan kebijakan,” Ucap Penrad

Ia mendesak pemerintah pusat bersama PLN untuk melakukan audit menyeluruh terhadap program elektrifikasi di Kepulauan Batu.

Penrad meminta dilakukan pemetaan ulang desa-desa yang belum teraliri listrik serta evaluasi terhadap alokasi anggaran dan target penyambungan.

“Negara tidak boleh hanya hadir melalui laporan administratif dan klaim capaian nasional. Masyarakat tidak butuh angka statistik, mereka butuh listrik yang benar-benar menyala di rumah mereka,” ujarnya.

Persoalan listrik diperparah dengan tingginya harga energi. Dari aspirasi masyarakat yang dihimpun, harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di beberapa titik disebut mencapai Rp 25.000 per liter akibat mahalnya biaya distribusi.

Sementara itu, harga elpiji 3 kilogram bersubsidi berada di kisaran Rp 55.000 per tabung.

Tingginya harga energi tersebut berdampak langsung pada meningkatnya biaya hidup. Nelayan, petani, dan pelaku usaha kecil harus menanggung beban operasional yang jauh lebih tinggi dibandingkan masyarakat di wilayah daratan utama.

“Di mana intervensi negara untuk menjamin stabilitas harga dan distribusi energi di wilayah kepulauan?” kata Penrad dengan nada kritis.

Penrad juga mengaku telah berdiskusi dengan para kepala daerah se-Kepulauan Nias, tokoh gereja, akademisi, serta komunitas masyarakat di Kepulauan Batu.

Dalam pertemuan tersebut, seluruh pihak sepakat bahwa masyarakat kepulauan memiliki hak yang sama dengan daerah lain untuk memperoleh pelayanan dasar yang adil.

“Kita harus bersama-sama menyuarakan kebutuhan ini agar terjadi perubahan kebijakan di tingkat pusat,” ujarnya.

Dari berbagai pertemuan tersebut, persoalan listrik dan mahalnya energi menjadi isu dominan yang terus mengemuka.masyarakat Kepulauan Batu kini menunggu langkah konkret, Bagi mereka, listrik bukan lagi simbol kemajuan, melainkan hak dasar yang seharusnya telah lama terpenuhi.

Reporter :Julius Sitanggang

 

spot_img

Terkini

Related Articles

Lewat ke baris perkakas