RROL.iD, Pematangsiantar – Terkait meninggalnya Jaka Malau (24) usai menjadi korban penganiayaan diduga salah sasaran oleh 6 anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) di trotoar Taman Bunga Jalan WR Supratman, Kecamatan Siantar Barat, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara.
Menurut penelusuran informasi, Permasalahan itu diduga berawal dari adanya perselisihan terkait harga pembuatan tato.
Sejauh ini, polisi sudah menangkap dua pelaku yakni Franky Silaen (30) dan Rohit Panjaitan (24).
Menurut keterangan Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar AKP Sandi Riz Akbar mengatakan saat seorang pembuat tato berinisial MS tengah berada di lokasi, MS tiba-tiba didatangi pelaku RS (DPO).
Berdasarkan keterangan saksi MS, kejadian itu bermula adanya perselisihan harga pembuatan tatto antara RS dengan pihak MS. Harganya harusnya Rp 600 ribu. DS pun protes dengan harga itu. Namun, pihak MS sempat mengatakan akan memulangkan sebagian uang itu.
“Dari keterangan MS, RS ini komplain awalnya masalah harga, kenapa bayarnya Rp 600.000 gitu. Namun, masalah tatto itu masih kami dalami untuk membuka motif awalnya bagaimana,” jelas Sandi, Jumat (19/6/2026).
Setelah menemukan MS, RS menyuruh MS untuk masuk ke dalam mobil. Pelaku RS lalu membawa MS ke samping Taman Hewan Pematangsiantar. Kemudian, RS bertemu dengan lima pelaku lainnya.
Sandi menyebut sempat terjadi cekcok antara korban dengan para pelaku. Setelah itu, MS dan enam pelaku lainnya pergi menuju Taman Bunga.
RS lalu turun dari mobil, sedangkan MS dan pelaku lainnya berada di dalam mobil. RS secara tiba-tiba menuduh korban yang saat itu tengah berada di taman itu adalah teman MS membuat tatto.
Padahal, antara Jaka dan MS juga tidak saling mengenal. MS juga tidak ada menyampaikan bahwa korban adalah temannya.
Korban pun membantah. Namun, para pelaku malah terus menuduh korban. Korban pun membela diri dengan menyatakan bahwa dirinya tidak takut dengan para pelaku. Hal itu pun memicu emosi para pelaku hingga berujung mengeroyok korban.
“Tiba-tiba, RS nyamperin orang yang lagi duduk di situ. Tanpa nanya, tanpa klarifikasi dulu ke si MS, kalau itu kawannya atau bukan. Dikiranya dia salah satu kawan-kawannya yang membuat tatto ini, dari situlah terjadi cekcok,” sebut Sandi.
Setelah memukuli korban, para pelaku membawa korban ke RS Vita Insani Pematangsiantar. Namun, pihak rumah sakit mengaku tidak sanggup menanganinya karena korban sudah dalam kondisi kritis.
Karena kebingungan, para pelaku membawa korban ke daerah Parluasan. Setelah itu, para pelaku membawa korban ke RSUD Djasamen Saragih pada 29 Mei 2026 dini hari.
Nahasnya, pada sekira pukul 15.00 WIB, korban dilaporkan meninggal dunia. Pihak kepolisian yang menerima informasi kejadian itu lalu menuju rumah sakit. Petugas pun mencari keberadaan keluarga korban yang ternyata tinggal di Kota Medan. Lalu, petugas kepolisian membawa ibu korban menuju Pematangsiantar.
Pihak keluarga, kata Sandi, sempat menolak jasad korban untuk diautopsi. Namun, untuk keperluan penyelidikan, polisi meminta pihak keluarga untuk menyetujui jasad korban untuk diautopsi.
Setelah disetujui, jasad korban pun dibawa ke RS Bhayangkara Tebing Tinggi untuk diautopsi pada 29 Mei 2026. Usai diautopsi, jasad korban dimakamkan pada esok harinya.
“Hasil autopsi, penyebab meninggalnya karena adanya pendarahan di bagian kepala belakang atau di bagian otak belakang,” kata Sandi.
Sandi mengatakan ada sekitar enam pelaku yang terlibat dalam pengeroyokan korban itu. Para pelaku ini merupakan anggota salah satu ormas.
Saat ini, kata Sandi, sudah ada dua pelaku yang ditangkap oleh pihaknya pada 31 Mei 2026. Sementara empat pelaku lagi masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Perwira pertama Polri itu menyebut keempat pelaku yang masih buron itu sudah ditetapkan menjadi tersangka.
“Betul, anggota ormas. 4 pelaku lagi sudah kami tetapkan sebagai tersangka dan masih kami lakukan upaya pencarian,” ujarnya.
Sandi menjelaskan bahwa para pelaku menganiaya korban dengan cara memukulnya hingga menginjaknya. Berdasarkan hasil visum, korban mengalami luka-luka di bagian kepala serta badannya.
Jadi Korban Salah Sasaran
Sandi menyebut bahwa Jaka ini diduga menjadi korban salah sasaran. Sebab, awalnya, para pelaku ingin mencari seorang pembuat tato yang memiliki permasalahan dengan pelaku. Para pelaku mengira korban merupakan teman dari pembuat tato tersebut.
“Jadi, lebih ke salah sasaran. Para pelaku mengira korban salah satu teman yang membuat tato ini,” pungkasnya.(Red)

