RROL. iD, Jawa Tengah – Rupiah sedang sekarat. Itu bukan sekadar judul film, tapi fakta yang dihadirkan oleh anak-anak muda di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah. Jumat (5/6/2026) sore, kawasan Jalan Imam Bardjo berubah menjadi ruang duka .
Mereka datang bukan dengan senjata, tapi dengan spanduk hitam bertuliskan “RIP. Rupiah Sekarat” dan “Turut Berdukacita atas Matinya Rupiah” . Mereka membakar uang mainan, menabur bunga, lalu menyegel pintu gerbang kantor BI dengan pita hitam-kuning . Adegan teatrikal ini adalah protes keras terhadap kondisi ekonomi yang menurut mereka sudah di ambang batas.
Tuntutannya singkat tapi menusuk, pemerintah diberi waktu 18 hari untuk menguatkan rupiah. Jika tidak, mereka akan turun ke jalan lagi dan kali ini mengusung jargon yang membuat ingatan kita kembali di 28 tahun silam, “Reformasi Jilid 2” .
Mahasiswa tidak memilih angka itu secara asal comot. Angka 18 merepresentasikan posisi kurs rupiah yang kini sudah menembus batas psikologis Rp18.000 per dolar AS . Ini level yang membuat para ekonom kalang kabut dan warga pasar mulai megap-megap karena harga kebutuhan pokok yang tak kunjung stabil.
Ketua BEM Universitas Sebelas Maret (UNS), M. Kailani Rizqi Pratama, yang juga menjadi koordinator lapangan, menjelaskan bahwa ultimatum ini adalah bentuk peringatan keras.
“Penyegelan ini sebagai bentuk ultimatum kepada rezim Prabowo-Gibran untuk memperbaiki ekonomi Indonesia,” tegasnya di hadapan massa .
Dengan nada yang tidak main-main, ia menambahkan “Jika dalam tenggat waktu 18 hari tidak ada perbaikan atau justru lebih parah dari saat ini, maka jangan salahkan kami selaku mahasiswa melakukan penyegelan-penyegelan di kantor pusat” .
Target berikutnya disebut-sebut adalah Kantor Pusat BI di Jakarta dan Kementerian Keuangan.
Salah satu orator yang paling menyita perhatian adalah Kevin Priambodo, Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Semarang. Dengan suara lantang ia melontarkan kritik pedas yang langsung disambut sorak-sorai massa.
“Kami resah melihat kondisi ekonomi yang sedang terjadi. Kebijakan fiskal yang digagas dan sikap yang diambil pemerintah seolah-olah menunjukkan tidak ada masalah. Yang paling parah, saya sangat muak dengan sikap egosentris yang terus dipertahankan Presiden dalam mempertahankan program-program mercusuarnya, arogansinya, dan hal-hal lainnya,” ujar Kevin.
Ia menyoroti ironi di mana subsidi BBM saat ini masih bertahan karena pemerintah menggelontorkan dana besar. Namun, ia khawatir APBN yang sudah jebol tidak akan mampu menopang subsidi tersebut jika terus membiayai proyek-proyek raksasa.
“Kita seperti hanya menunggu bom waktu. Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa upaya perbaikan yang konkret, bisa saja tiga hari lagi, seminggu lagi, semuanya meledak,” pungkasnya .
Ketakutan mahasiswa bukanlah isapan jempol belaka. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, memang sudah menjelaskan bahwa pelemahan rupiah disebabkan oleh tekanan eksternal, konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, hingga arus keluar modal.
Tapi bagi mahasiswa, penjelasan itu tidak cukup. Mereka menilai pemerintah terlalu lama berdalih dan tidak kunjung menghadirkan solusi nyata di tengah rakyat yang mulai merasakan dampaknya di lapak-lapak pasar.
Para demonstran tampak sadar betul dengan resonansi sejarah dari ancaman yang mereka lontarkan. Kata “Reformasi Jilid 2” adalah momok yang membuat siapapun di kursi kekuasaan bergidik.
Namun, mereka juga tidak mau dipandang sebagai perusak.
“Kami tidak berharap Reformasi Jilid 2 terjadi. Kalau bisa, jangan sampai terulang lagi. Jika itu terjadi, kami juga malu sebagai bangsa Indonesia. Negara yang cerdas seharusnya tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya,” ujar Kailani dengan nada getir.
Tapi ada “if”-nya.
“Akan tetapi, jika kondisi tidak kunjung membaik, kemungkinan itu tetap ada” .
Seperti bom waktu yang terus berdetak, hitungan mundur 18 hari itu kini resmi berjalan. Apakah pemerintah akan merespons dengan kebijakan konkret, atau diam saja sambil berharap ingatan kolektif bangsa tentang keruntuhan 1998 benar-benar sudah luntur dimakan usia?
Kita lihat saja 18 hari ke depan. Detik-detik menuju “Entah Apa” telah dimulai. (Red)

